Minggu, 20 Mei 2012

Sistem Agribisnis Aren di Kecamtan Mungka Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat



 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sistem Agribisnis Aren di Kecamtan Mungka Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat


A. Tujuan Strategis Pengembangan Agribisnis aren di Kecamatan Mungka


 oleh : Aris Samudra

           Berdasarkan informasi dari Kecamatan Mungka, salah satu misi Kecamatan Mungka yaitu mewujudkan pembangunan yang adil, ramah lingkungan dan berbasis pertisipasi masyarakat, serta penciptaan lapangan kerja. Hal tersebut memberikan rekomendasi terhadap pengembangan agribisnis aren  di Kecamatan Mungka. Pengembangan agribisnis aren dapat meningkatkan pendapatan petani aren sehingga berkontribusi terhadap perekonomian Kecamatan Mungka. Selain itu, pengembangan agribisnis aren mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru dan pengembangan tersebut bersifat partisipasi masyarakat, khususnya masyarakat yang berada di sekitar hutan yang ditumbuhi tanaman aren sehingga mampu mengurangi tingkat pengangguran. Selain itu, UPT Pertanian Kecamatan Mungka juga memiliki misi  strategis dalam mengembangkan pertanian di Kecamatan Mungka, yaitu mengembangkan tanaman perkebunan yang potensial sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi tingkat pengangguran di Kecamatan Mungka. Salah satu tanaman perkebunan yang terdapat di Kecamatan Mungka adalah tanaman aren
            Berdasarkan hasil wawancara dengan UPT Pertanian Kecamatan Mungka, adapun tujuan strategis pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka adalah meningkatkan produksi gula aren yang berkualitas  di Kecamatan Mungka  sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani aren di Kecamatan Mungka. Arah pengembangan agribisnis aren yang dirumuskan oleh Kecamatan Mungka menitikberatkan pada pengembangan agribisnis tanaman aren dengan sistem tumpang sari/agroforesti. Selain itu, pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka menciptakan sistem pengolahan gula aren secara berkelompok sehingga mampu meningkatkan produktivitas, pemanfaatan teknologi tepat guna dan menjaga tingkat kemurnian gula aren tanpa campuran di Kecamatan Mungka.

B. Deskripsi Agribisnis aren di Kecamatan Mungka
B.1 Subsistem Agribisnis Hulu
            Subsistem agribisnis hulu menggambarkan tentang kios-kios sarana produksi yang menyediakan bibit, pupuk, peptisida, dan alat-alat pertanian. Menurut Hermawan (2008), subsistem agribisnis hulu menyangkut kegiatan pengadaan dan penyaluran. Kegiatan ini mencakup perencanaan, pengelolaan dari sarana produksi, teknologi, dan sumberdaya agar penyediaan sarana produksi atau input usahatani memenuhi kriteria tepat waktu, tepat jumlah, tepat jenis, tepat mutu, dan tepat produk. Oleh karena itu, subsistem agribisnis hulu yang ideal dalam pengembangan sistem agribisnis aren di Kecamatan Mungka, sebaiknya menyediakan alat-alat dan mesin pertanian serta industri sarana produksi yang digunakan dalam usahatani aren, sehingga penyediaan sarana produksi tersebut memenuhi kriteria tepat waktu, tepat jumlah, tepat jenis, tepat mutu, dan tepat produk.
Berdasarkan hasil wawancara  dengan  UPT Pertanian Kecamatan Mungka, Kecamatan Mungka memiliki kios-kios sarana produksi yang menyediakan pupuk, peptisida, dan obat-obatan. Namun hal tersebut tidak pernah dimanfaatkan oleh petani aren untuk membudidayakan tanaman aren, sehingga subsistem agribisnis hulu dengan subsistem usahatani tidak saling berketerkaitan. Padahal, petani bisa memperoleh pupuk melalui distributor pupuk bersubsidi yang terdapat di Kecamatan Mungka. Ketersediaan kios-kios sarana produksi yang terdapat di Kecamatan Mungka merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Pedagang saprodi di Kecamatan Mungka, Pedagang saprodi  tersebut menyediakan pupuk meliputi pupuk urea, pupuk NPK, pupuk KCL, dan pupuk ZA. Pupuk tersebut biasanya dibeli oleh petani langsung ke kios-kios pedagang saprodi secara tunai. Namun, petani aren di Kecamatan Mungka tidak pernah membeli pupuk untuk dimanfaatkan dalam usahatani mereka. Dalam pemupukan tanaman aren, Petani aren biasanya menggunakan abu dari kayu bakar yang digunakan sebagai bahan bakar dalam memasak gula aren. Menurut Sunanto (1993), Pemupukan dilakukan untuk merangsang pertumbuhan agar lebih cepat. Pemupukan dilakukan pada tanaman berumur 1-3 tahun dengan memberikan seperti pupuk urea, NPK, pupuk kandang, dan KCL yang ditaburkan pada sekeliling batang pohon aren yang telah digemburkan tanahnya. Oleh karena itu, ketersediaan pupuk di kios-kios sarana produksi di Kecamatan Mungka merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis di Kecamatan Mungka.
Selain itu, pedagang saprodi juga menyediakan peptisida seperti deltametrin dan sihalotorin. Peptisida tersebut dibeli oleh petani kakao untuk membasmi kumbang penggerek batang. Berdasarkan hasil wawancara dengan Petani , tanaman aren selalu diserang oleh kumbang penggerek batang. Namun, Petani aren tidak pernah melakukan penyemprotan peptisida untuk mengatasi hama tersebut. Ketersediaan peptisida di kios-kios sarana produksi di Kecamatan Mungka yang mampu mengatasi hama pengganggu pada tanaman aren merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka. Ketersediaan input produksi seperti pupuk dan peptisida cukup tersedia, sehingga penyaluran input produksi tersebut lancar dan harga sangat terjangkau oleh petani. Oleh karena itu, petani aren mampu memanfaatkan input produksi tersebut dalam membudidayakan tanaman aren. Penyaluran input produksi yang lancar dan harga yang terjangkau oleh petani merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
Selain pupuk dan peptisida, berdasarkan hasil wawancara dengan Pedagang saprodi di Kecamatan Mungka, Pedagang saprodi juga menyediakan alat-alat pertanian seperti parang, cangkul, pisau, dan lain-lain. Berdasarkan informasi dari Petani , Petani  membeli alat-alat pertanian digunakan untuk perawatan tanaman aren, penyadapan nira pada tanaman aren, dan pengolahan gula aren. Petani sangat mudah mendapatkan alat-alat pertanian yang digunakan dalam penyadapan tanaman aren dan  mengolah nira aren menjadi gula aren di kios-kios sarana produksi dan pasar-pasar  Kecamatan atau di Pasar Payakumbuh dengan harga yang terjangkau. Oleh karena itu, ketersediaan alat-alat pertanian di kios-kios sarana produksi Kecamatan Mungka yang dimanfaatkan petani aren merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
        
           Berdasarkan informasi dari Dinas Perkebunan Kab. Lima Puluh Kota, kios-kios sarana produksi di Kabupaten Lima Puluh Kota khususnya Kecamatan Mungka belum ada yang mampu menyediakan bibit unggul tanaman aren dan penelitian-penelitian tentang  bibit unggul tanaman aren di Kabupaten Lima Puluh Kota juga belum mendapatkan perhatian yang serius serta dalam pengadaan bibit unggul belum ditemui petani-petani yang menyediakan bibit unggul. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani , petani  masih menggunakan bibit yang berasal dari seleksi alam (Musang). Ketersediaan bibit yang berasal dari seleksi alam tersebut belum bisa dikatakan sebagai bbit unggul dan bibit tersebut memiliki jumlah yang tidak bisa dipastikan sehingga menghambat kemampuan petani dalam mengembangkan skala usahatani petani aren di Kecamatan Mungka. Oleh karena itu, ketersediaan bibit unggul yang belum ada  merupakan kelemahan dalam pengembangan agribisnis  aren di Kecamatan Mungka.
           
         Namun, daerah Banten dan Kalimatan Timur menyediakan biji dan bibit unggul tanaman aren sehingga mampu menyediakan pasokan  biji dan bibit unggul kepada setiap wilayah-wilayah yang membutuhkan (Kusumanto, 2008). CV.Multivalent Prima yang terdapat di Semarang juga menyediakan bibit unggul tanaman aren sehingga mampu dimanfaatkan Kecamatan Mungka untuk ketersediaan bibit unggul di Kecamatan Mungka. Ketersediaan bibit unggul tersebut merupakan peluang bagi kios-kios sarana produksi dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka sehingga tersedianya bibit unggul tanaman aren di Kecamatan Mungka.
B. 2 Subsistem Agribisnis Usahatani
            Subsistem agribisnis usahatani (On Farm Agribusiness) merupakan kegiatan proses produksi mulai dari pengolahan tanah, penanaman, perawatan dan pemungutan hasil. Petani aren masih saja melakukan pembudidayaan aren dengan sangat tradisional. Petani aren tidak melakukan penyeleksian benih dan pembibitan serta pengembangan luas tanam tanaman aren. Petani aren hanya merawat tanaman aren yang tumbuh dengan sendirinya. Oleh karena itu, kegiatan usahatani aren di Kecamatan Mungka tidak optimal sehingga produktivitas tanaman nira di Kecamatan Mungka belum maksimal.
Usahatani aren  menggambarkan tentang penggunaan dan pengelolaan faktor-faktor produksi (lahan, tenagakerja, modal, teknologi dan manajemen) dalam proses membudidayakan tanaman aren yaitu persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemupukan dan pemungutan hasil.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan hasil wawancara dengan petani , petani  tidak memiliki luas lahan yang luas dan khusus untuk penanaman tanaman aren. Lokasi tanaman aren yang dimiliki oleh petani  menyebar di perkarangan, lereng-lereng perbukitan dan kebun petani . Tanamana aren biasanya merupakan tanaman pendamping tanaman lain seperti kakao dan karet. Oleh karena itu, petani  hanya memiliki beberapa batang tanaman aren. Jumlah batang aren yang dimiliki oleh petani  masih sedikit sehingga jumlah produksi gula aren masih belum bisa memenuhi permintaan pasar yang sangat tinggi. Padahal, masih banyak lahan-lahan kosong yang potensial yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan tanaman aren di Kecamatan Mungka.
Selain itu, petani  juga tidak pernah melakukan pengolahan lahan terlebih dahulu dalam membudidayakan tanaman aren. Tanaman aren tumbuh di perkarangan atau di lereng-lereng perbukitan tanpa penyiapan lahan dan pengolahan lahan.  Menurut Soeseno (1992),  akar tanaman aren akan sulit menembus butiran tanah dan akar tanaman aren akan menjadi kerdil apabila lahan yang akan ditanami tanaman aren tidak gembur dan tidak ada perlakuan dalam pengolahan tanah sehingga menghambat pertumbuhan tanaman aren dan berpengaruh terhadap produksi nira yang dihasilkan tanaman aren. Oleh karena itu, proses pengolahan lahan sangat penting sehingga penanaman tanaman aren tanpa ada pengolahan lahan sebelumnya merupakan kelemahan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, tanaman aren di Kecamatan Mungka merupakan tanaman yang tidak dibudidayakan sehingga tanaman aren merupakan tanaman liar yang penyebaran pertumbuhannya dilakukan melalui seleksi alam dengan bantuan binatang (Musang). Oleh karena itu, bibit tanaman aren yang tumbuh tersebar secara tidak teratur dan berkelompok. Selain itu, bibit aren yang tumbuh tidak terdapat dalam jumlah yang besar dan bibit yang tumbuh tersebut belum bisa dipastikan bibit unggul. Bibit unggul yang tidak tersedia menghambat petani dalam mengembangkan skala usahanya dan produksi nira yang dihasilkan petani di Kecamatan Mungka belum maksimal. Jadi, bibit aren yang berasal dari seleksi alam yang tidak termasuk kedalam kategori bibit unggul merupakan kelemahan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Petani , tanaman aren di Kecamatan Mungka hanya menghasilkan rata-rata 15 liter per batang dalam satu kali penyadapan. Menurut Kusumanto (2008), Produktivitas aren beragam antar tanaman, umumnya pohon dengan ukuran batang besar dan tinggi merupakan penghasil nira yang banyak. Produksi nira tertinggi dijumpai pada penyadapan mayang yang pertama, kemudian akan menurun pada mayang berikutnya. Produksi nira optimal berkisar 20-30 liter/hari/pohon dengan diameter batang kecil dan pendek atau penyadapan pada mayang kedua, produksi nira akan berkurang, berkisar 10–20 liter/hari.  Namun apabila petani aren di Kecamatan Mungka menggunakan bibit unggul maka tanaman aren  mampu mencapai produktivitas  optimal .Bibit unggul mampu menghasilkan 25-30 liter nira per batang dalam sekali penyadapan dan masa produksi yang lebih cepat (CV.Multivalent Prima). Oleh karena itu, ketersediaan bibit unggul merupakan permasalahan yang sangat penting dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
Berdasarkan hasil wawancara dengan petani , petani  tidak pernah melakukan penanaman tanaman aren secara teratur sehingga perencanaan dalam penanaman tanaman aren baik dari segi jumlah maupun pola tanam tidak pernah dilakukan. Pada umumnya, petani  hanya memindahkan tanaman aren yang tumbuh liar ke perkarangan rumah petani   atau ke kebun petani  sebagai tanaman pendamping, tanaman pagar dan tanaman pelindung yang ditanam secara tumpang sari dengan tanaman coklat dan tanaman karet. Selain pola penanaman tumpang sari, petani  juga melakukan penanaman dengan pola penanaman agroforesti yaitu menanam tanaman aren di sekitar lereng-lereng perbukitan. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani , pola penanaman tanaman aren dengan menggunakan pola tanam tumpang sari dilakukan karena umur produksi tanaman aren yang cukup lama. Tanaman aren di Kecamatan Mungka mulai memproduksi nira pada umur 8-10 tahun sehingga dengan pola tanam tumpang sari, petani  bisa memanfaatkan hasil dari tanaman lain yang ditanam. Oleh karena itu, umur produksi tanaman aren yang cukup lama merupakan kelemahan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
Dalam budidaya tanaman aren, petani  hanya melakukan penyiangan dan pemupukan. Petani  menyiangi tumbuhan pengganggu dan membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di batang tanaman aren yang dilakukan  di setiap hari sewaktu petani  melakukan penyadapan nira. Selain itu, petani aren juga melakukan pemupukan dengan menggunakan Abu yang di lakukan satu bulan sekali. Debu tersebut berasal dari kayu bakar yang digunakan untuk memasak nira menjadi gula aren. Berdasarkan informasi dari petani , tanaman aren yang dilakukan penyiangan dan pemupukan dengan debu lebih memberikan hasil yang maksimal dibandingkan dengan pohon aren yang tumbuh liar tanpa pemeliharaan. Hal tersebut membukitikan bahwa tanaman aren sangat membutuhkan budidaya dan perawatan yang optimal sehingga mampu meningkatkan produktifitas.
           
         Oleh karena itu, petani  aren di Kecamatan Mungka masih menggunakan teknik budidaya yang masih sangat tradisional karena petani  tidak melakukan pengolahan lahan, seleksi bibit unggul, penanaman, penyiangan dan pemupukan yang optimal sehingga sangat mempengaruhi produktivitas tanaman aren. Menurut Kusumanto (2008), Apabila tanaman aren dibudidayakan  dengan bibit yang unggul, pemeliharaan yang intensif, pemupukan yang cukup, pengelolaan manajemen kebun yang memadai, maka hasilnya akan lebih baik dari pada yang sekarang ini dihasilkan dari pohon yang alami bahkan yang tumbuh liar dengan jarak yang tidak beraturan. Tanaman aren yang tidak dibudidayakan merupakan kelemahan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
Berdasarkan hasil wawancara dengan petani , proses penyadapan nira yang dilakukan oleh petani  meliputi tahap (1) persiapan penyadapan, (2) pemukulan tandan bunga jantan, (3) pemotongan ujung tandan bunga jantan, (4) penyadapan.  Proses persiapan penyadapan nira yang dilakukan oleh petani  dengan membersihkan batang aren dari ijuk dan kotoran lain serta membuka pelepahnya. Selain membersihkan batang aren, petani  memasang tangga yang terbuat dari buluh sebagai alat untuk memanjat pohon aren sewaktu penyadapan nira. Setelah pohon aren siap disadap, petani  melakukan pemukulan terhadap tandan bunga jantan yang siap untuk disadap niranya. Pemukulan tandan bunga jantan dilakukan menggunakan kayu dengan arah memutar mulai dari ujung ke arah pangkal, kemudian sebaliknya sebanyak 3-6 kali putaran yang dilakukan secara perlahan dan hati-hati serta menggoyang-goyangkan tandan bunga jantan secara perlahan. Proses tersebut bertujuan untuk memperbesar pori-pori dan melunakkan tandan bunga jantan, sehingga nira mudah keluar. 
Setelah pemukulan tandan bunga jantan, petani  memotong ujung tandan bunga jantan dengan menggunakan pisau. Sebelumnya, dirijen atau bambu digantungkan dekat tandan tersebut sehingga air nira yang keluar tertampung didalam bumbung atau dirijen tersebut. Petani  akan mengaitkan katrol dirijen atau bambu sehingga setelah bumbung atau dirijen tersebut penuh maka petani akan menurunkan menggunakan katrol tersebut.
Selain itu, ketersediaan tenaga kerja dalam penyadapan nira masih sedikit. Dalam penyadapan nira, petani  hanya mampu menyadap 4-6 batang aren per hari. Dalam satu batang tanaman aren, petani  dapat menyadap tanaman aren tersebut dua kali dalam satu hari. Pada umumnya, penyadapan nira dilakukan oleh kaum laki-laki (Lampiran 14). Ketersediaan tenaga kerja yang masih sedikit tersebut di sebabkan karena penyebaran tanaman aren yang tidak teratur, proses penyadapan nira yang masih tradisional memiliki resiko yang sangat tinggi dan membutuhkan tenaga yang maksimal dalam memanjat batang aren yang tinggi yaitu 10-20 meter. Menurut Kusumanto (2008),  keadaan kebun aren yang tidak beraturan, setiap satu orang tenaga penyadap paling-paling hanya sanggup menangani 10-20 pohon aren saja setiap harinya (pagi dan sore), yang dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan berpengalaman. Kalau tenaga yang baru dan belum berpengalaman mungkin hanya bisa menyadap 5-10 pohon saja. Oleh karena itu, penyebaran tanaman aren yang tidak teratur di  pekarangan petani  ditambah proses penyadapan yang masih sangat tradisional akan berakibat proses penyadapan tanaman aren menjadi tidak efektif dan efisien. Hal tersebut merupakan kelemahan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
Menurut Kusumanto (2008), proses penyadapan nira dapat dilakukan dengan menggunakan sistem jembatanisasi. Sistem jembatanisasi dapat dilakukan apabila tanaman aren memiliki pola tanam yang teratur dan memiliki jarak yang dekat antara satu tanaman dengan tanaman lain dengan jarak antara 4 - 6 meter, dipasang 2 (dua) baris bambu yang sambung menyambung dari satu pohon ke pohon lain sampai di pohon yang paling ujung. Penyadap nira hanya memanjat naik pada satu pohon di awal, berpindah ke pohon satu ke pohon berikutnya melalui jembatan bambu yang dibuat di atas pohon, dan kemudian turun pada pohon yang paling ujung. Sedangkan untuk naik dan turunnya wadah penampung nira dan niranya, mereka menggunakan tali yang ditarik ulur dari atas atau dari bawah pohon.
Dengan menerapkan jembatanisasi antar pohon dan sekaligus pipanisasi nira sampai ke tempat pengolahan, maka banyak sekali keuntungan yang akan diperoleh. Sebab banyak sekali pekerjaan yang biasanya dilakukan pada pola konvensional tidak dilakukan lagi. Waktu yang diperlukan untuk mengerjakan penyadapan hingga nira sampai di penampungan menjadi lebih pendek, sehingga setiap pekerja bisa mengerjakan dengan jumlah pohon yang lebih banyak. Selain itu, mutu nira yang di hasilkan lebih baik dan lebih alami, karena nira langsung mengalir dan ditampung ditempat pengolahan dalam waktu singkat. Nira tidak lagi mengalami perubahan karena terkumpul tanpa perlakukan selama sekitar 10-14 jam di wadah penampungan nira yang menggunakan sistem tradisional. Dengan demikian mutu gula pasti lebih baik dan tentu akan menaikkan nilai daya saing dan nilai jualnya.
Sistem jembatanisasi merupakan inovasi teknologi dalam proses penyadapan tanaman aren di Kecamatan Mungka sehingga proses penyadapan nira menjadi efektif dan efisien yang akan berdampak terhadap peningkatan produksi dan kualitas produk yang di hasilkan di Kecamatan Mungka. Oleh karena itu, sistem jembatanisasi merupakan peluang dalam mengembangkan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
Berdasarkan hasil wawancara dengan petani , selain nira aren yang diolah menjadi gula aren, petani  juga bisa memanfaatkan ijuk, kolang-kaling dan sagu yang dimiliki tanaman aren sehingga memberikan pendapatan tambahan bagi petani. Namun,  ijuk, kolang-kaling dan sagu tidak memiliki pasar yang jelas sehingga petani  hanya memenuhi permintaan terhadap produk tersebut apabila ada permintaan secara langsung ke tempat petani . Pada tahun 1999, petani aren di Kecamatan Mungka pernah menjual ijuk kepada pedagang sebanyak 10 Ton dengan harga jual 1.000/Kg. Ijuk tersebut akan di ekspor ke Jerman dengan standar kualitas dan kebersihan yang telah ditentukan. Selain itu, petani  juga menjual buah kolang-kaling pada Bulan Ramadhan dengan harga 9.000/Kg. Apabila tanaman aren sudah tidak produktif lagi, petani resonden dapat menjual sagu yang terdapat di dalam batang aren yang pada umumnya dimanfaatkan konsumen untuk pakan kuda dan pembuatan tepung dengan harga Rp 200.000,-/Batang. Nilai ekonomis yang dimiliki tanaman aren selain pemanfaatan nira menjadi gula aren mampu memberikan pendapatan tambahan kepada petani . Hal tersebut merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
C. Subsistem Agribisnis Hilir
            Subsistem agribisnis hilir merupakan kegiatan ekonomi yang mengolah hasil pertanian primer menjadi produk olahan, baik dalam bentuk siap untuk dimasak maupun dikonsumsi beserta kegiatan pemasarannya baik pada pasar domestik maupun internasional.

C. 1. Pengolahan Nira menjadi Gula Aren
            Berdasarkan hasil wawancara dengan petani , kegiatan pengolahan nira menjadi gula aren dilakukan oleh petani itu sendiri sehingga kegiatan usahatani aren dan pengolahan gula aren merupakan kegiatan utama petani aren di Kecamatan Mungka. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, petani aren di Kecamatan Mungka melakukan pengolahan secara sendiri. Petani  yang melakukan pengolahan gula secara sendiri sebesar 50 % dan sebesar 50 % pengolahan gula aren di lakukan oleh tenaga kerja dalam keluarga lainnya (perempuan). Jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam pengolahan nira menjadi gula aren hanya satu orang tenaga kerja dalam keluarga sehingga produksi gula aren yang dihasilkan oleh petani aren di Kecamatan Mungka masih sedikit dan belum bisa memenuhi kebutuhan pasar yang berasal dari dalam maupun dari luar Kecamatan Mungka.
            Berdasarkan hasil wawancara dengan petani , proses pengolahan nira menjadi gula aren dilakukan dengan cara memasak nira aren tersebut menggunakan kuali yang berukuran besar. Proses pengolahan nira menjadai gula aren meliputi : (1) penampungan nira, (2) penyaringan nira, (3) pemasakan, (4) percetakan. Setelah nira aren disadap, nira aren tersebut dikumpulkan didalam ember. Sebelum nira aren tersebut dimasak, nira disaring dengan menggunakan penyaringan yang berguna untuk memisahkan nira aren dengan kotoran yang ikut sewaktu penyadapan. Penyaringan nira dari kotoran dilakukan sebanyak 2 kali. Setelah proses penyaringan, aren dimasak menggunakan kuali besar di atas tungku api yang berbahan bakar kayu bakar. Seluruh petani  menghabiskan kayu bakar dengan biaya sebesar Rp 300.000 per bulan kira-kira 1/8 m3 / Hari.  Nira aren sebanyak 40-45 liter mampu menghasilkan 5 Kg gula aren dengan lama proses memasak selama 1.5 jam.  Setelah nira aren dimasak, nira akan menjadi kental dan berwarna merah kecoklat-coklatan sehingga nira yang kental tersebut akan dimasukkan kedalam cetakan yang berdiameter 5 cm. Sebelum dimasukkan kedalam cetakan, cetakan tersebut direndam terlebih dahulu ke dalam air untuk memudahkan pelepasan gula aren dari cetakan. Cetakan aren yang berdiameter  5 cm tersebut menghasilkan gula  aren dengan berat 0.23-0.25 kg gula aren. Setelah gula aren kering dan dingin, gula aren tersebut di bungkus dengan daun pisang dan siap untuk dipasarkan. Satu bungkus gula aren tersebut memiliki berat 1 Kg.
Proses pengolahan nira menjadi gula aren di Kecamatan Mungka masih sangat tradisional dan sederhana sehingga proses tersebut tidak efisien dan efektif. Selain itu, proses pengolahan gula aren yang  menggunakan kayu bakar merupakan proses pengolahan yang tidak ramah lingkungan. Proses pengolahan nira menjadi gula aren yang sangat sederhana dan masih  menggunakan kayu bakar merupakan kelemahan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
        
    Pabrik Gula Aren di Masarang Sulawesi Utara memanfaatkan energi panas bumi untuk mengolah nira menjadi gula aren sehingga petani aren di Masarang tersebut tidak perlu menggunakan kayu bakar untuk mengolah gula aren. Selain itu, gula aren yang dihasilkan memiliki standar kebersihan, kualitas dan kemasan (Kompas.com, 2009). Selain itu, teknologi pengolahan gula aren yang menggunakan alat atau mesin RO mampu meningkatkan  kandungan  gula aren dari 10-12%  menjadi  30% artinya massa air murni yang terdapat dalam larutan nira dapat dipisahkan sebanyak sekitar 60 % (atau hampir 2/3) bagian dari nira. Proses pengolahan ini tidak menggunakan energi panas sehingga sangat hemat bahan bakar. Oleh karena itu, teknologi membran yang menggunakan alat RO mampu meningkatkan produksi gula aren, menghemat bahan bakar, nira menjadi sangat bersih dan hiegenis, karena bisa dipisahkan dengan partikel-partikel kotoran yang mungkin terlarut, nira bisa distrerilkan dari kandungan organisme renik yang menyebabkan mutu nira berubah, dan nira bisa dikemas dan dijual dalam keadaan segar tanpa proses pemanasan (Kusumanto, 2010). Teknologi pengolahan gula aren yang efektif dan efesien tersebut merupakan peluang yang bisa dimanfaatkan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
            Berdasarkan hasil wawancara dengan petani , produk gula aren yang dihasilkan oleh petani aren di Kecamatan Mungka berupa gula cetak atau balok yang memiliki bentuk fisik seperti tabung yang memiliki tinggi 4 cm dan diameter alas 7 cm. Produk gula aren yang dihasilkan petani aren di Kecamatan Mungka masih sangat tradisional yang dikemas dengan daun pisang.   Bentuk produk tanaman aren yang masih sangat tradisional dan tidak menarik tidak mampu memasuki pasar modern ataupun pasar internasional yang selalu memiliki standar kebersihan, standar kualitas dan kemasan terhadap  produk gula aren. Oleh karena itu, bentuk produk gula aren yang sangat tradisional dan tidak menarik merupakan kelemahan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka. 
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan petani , gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka masih bersifat murni tanpa campuran. Oleh karena itu, konsumen sangat menyukai gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka karena gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka memiliki kualitas yang bagus dan aroma yang khas. Kemurnian gula aren tanpa campuran merupakan kekuatan dalam pengembangan agribinis aren di Kecamatan Mungka. Namun, gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka tidak menggunakan kemasan yang bagus, bersih dan menarik. Promosi terhadap produk gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka juga tidak pernah dilakukan sehingga hal tersebut dapat menyebabkan konsumen tidak mengetahui keunggulan gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka. Kegiatan promosi dan memberikan kemasan yang menarik memberikan nilai tambah bagi produk tersebut sehingga gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka yang tidak memiliki kemasan yang menarik dan tidak ada kegiatan promosi merupakan kelemahan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
Walaupun kemasan gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka tidak bagus, bersih dan menarik serta belum adanya kegiatan promosi, gula aren yang dihasilkan selalu habis terjual dengan harga yang cukup tinggi yaitu Rp 10.000/ kg  yang di jemput oleh pedagang pengumpul ke tempat pengolahan yang dimiliki oleh petani .

C. 2.      Keuangan Petani
Modal dalam berusahatani merupakan unsur produksi yang paling penting, tanpa modal segalanya tidak akan berjalan dengan baik. Kecukupan modal mempengaruhi ketepatan waktu dan takaran dalam menggunakan modal. Selain itu, modal juga sangat menentukan tingkat atau macam teknologi yang diterapkan (Daniel, 2002). Berdasarkan hasil wawancara dengan petani , petani  menggunakan modal sendiri dalam melakukan usahataninya walaupun telah tersedia lembaga keuangan penunjang seperti BPR di tingkat Kecamatan. Peluang tersebut belum dimanfaatkan oleh petani karena modal untuk mengusahakan tanaman aren tidak terlalu besar sehingga petani merasa masih memiliki modal yang cukup dari hasil panen sebelumnya.
Modal yang diperlukan petani  dalam usahatani aren berkisar Rp 600.000 – Rp 700.000. Modal tersebut terdiri dari biaya investasi alat-alat penyadapan dan pengolahan gula aren, biaya tenaga kerja (biaya yang diperhitungkan/ bulan) dan biaya operasi (biaya pembelian kayu bakar/bulan). Alat-alat yang digunakan dalam usahatani aren yaitu, parang, batu asahan, kuali, sendok, dirijen, baskom, katrol, plastik dan pencetak gula aren dengan biaya investasi awal rata-rata sebesar Rp 279.500,-. Selain itu, penyusutan alat-alat tersebut juga diperhitungkan dengan membagi 2, yaitu biaya penyusutan alat penyadapan nira dengan biaya rata-rata sebesar Rp 20.775,-/tahun dan biaya penyusutan alat pengolahan nira menjadi gula aren dengan biaya rata-rata sebesar Rp 36.319,-/tahun. Biaya tenaga kerja dan biaya bahan bakar (Kayu bakar) adalah Rp 737.750,-/bulan dan Rp 300.000,- /bulan. Namun, biaya tenaga kerja merupakan biaya yang diperhitungkan karena menggunakan tenaga kerja dalam keluarga. Oleh karena itu, modal yang diperlukan petani  dalam mengusahakan usaha tani aren masih bisa dipenuhi oleh petani  tersebut.
Berdasarkan Lampiran 17, biaya rata-rata petani  dalam mengusahakan usahatani aren sebesar Rp 1.043.515,-/Bulan dengan penjualan rata-rata sebesar 3.225.000,-/bulan sehingga keuntungan bersih rata-rata yang diperoleh petani  sebesar Rp 2.181.484,- /bulan dengan nilai B/C sebesar 3,06. Oleh karena itu,  usahatani aren layak untuk dilaksanakan dan sangat potensial untuk dikembangkan dengan mempertimbangkan permintaan pasar tehadap gula aren masih belum bisa dipenuhi sehingga keuntungan yang cukup tinggi diperoleh petani  yang masih mengusahakan tanaman aren dengan tradisional dan jumlah tanaman yang masih sedikit merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
C.3. Pemasaran Gula aren
            Pemasaran merupakan kegiatan penting dalam aktivitas pertanian terutama pada sistem agribisnis. Berdasarkan hasil wawancara dengan pedagang , pemasaran gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka ini dipasarkan di dalam Kecamatan Mungka maupun di luar Kecamatan Mungka yaitu Payakumbuh, Bukittinggi, Riau (Rengat), dan Jambi. Di daerah pemasaran gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka tersebut juga terdapat gula aren yang berasal dari kecamatan-kecamatan yang menghasilkan gula aren di Kabupaten Lima Puluh Kota seperti Kecamatan Sago Halaban, Suliki, Luhak, Payakumbuh dan lain-lain. Selain itu, di daerah pemasaran tesebut juga terdapat gula aren yang berasal dari Kabupaten Pasaman Barat dan Tanah Datar. Hal ini menimbulkan persaingan yang merupakan ancaman bagi pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka. Berdasarkan informasi pedagang , pesaing-pesaing yang terdapat dari luar Kecamatan Mungka tidak mempengaruhi penjualan pedagang yang berasal dari Kecamatan Mungka sehingga gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka selalu habis terjual dan selalu terjadi peningkatan permintaan.
            Pedagang dari komoditi gula aren ini merupakan pedagang pengumpul yang  memasarkan gula aren ke daerah Bukittinggi dan daerah Riau (Rengat). Hal tersebut mewakili bahwa daerah pemasaran terbesar gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka adalah Bukittinggi. Berdasarkan informasi pedagang  yang memasarkan gula aren ke Bukittinggi, permintaan gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka masih belum bisa terpenuhi walaupun begitu banyak gula aren yang berasal dari daerah lain yang memasarkan gula aren di Bukittinggi. Permintaan terhadap gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka selalu meningkat sehingga merupakan peluang yang harus dimanfaatkan untuk mengambangkan agribisnis aren di Kecamatan Mungka. Selain itu, berdasarkan informasi pedagang yang memasarkan gula aren ke daerah Riau  (Rengat), permintaan gula aren di Propinsi Riau juga sangat prospektif yang disebabkan karena masyarakat di Propinsi Riau suka mengkonsumsi gula aren untuk kebutuhan makanan dan minuman. Oleh karena itu, permintaan pasar yang belum bisa terpenuhi serta sudah di pasarkan antar propinsi merupakan peluang yang harus dapat dimanfaatkan dalam pengembangan agribisnis  aren di Kecamatan Mungka.
             Pedagang pengumpul yang meminjam uang kepada pedagang besar  dapat mengakibatkan  tekanan dan harga yang bisa dipermainkan oleh pedagang besar kepada pedagang pengumpul tersebut sehingga pedagang pengumpul selalu dirugikan oleh pedagang besar.
Tabel 11. Identitas Pedagang komoditi di Kecamatan Mungka
Kegiatan pada daerah pemasaran gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka memiliki saluran tataniaga sebagai berikut :
1.      Petani                 Pedagang pengumpul         Pedagang besar             Pedagang pengecer             Konsumen
2.      Petani                 Pedagang Pengumpul          Pedagang pengecer           Konsumen
3.      Petani                Pedagang pengumpul            Pedagang pengecer lokal
4.      Petani                 Konsumen
Petani  lebih menyukai pendistribusian pada saluran tataniaga yang pertama dan kedua karena pedagang pengumpul membeli gula aren dalam jumlah besar serta menjemput gula aren tersebut langsung ke tempat pengolahan gula aren sehingga petani tidak perlu memikirkan lagi biaya transportasi dan gula aren yang di produksi petani langsung habis terjual.
Walaupun tidak menimbulkan permasalahan bagi petani, tetapi sebenarnya pendistribusian dengan saluran tataniaga yang panjang juga menimbulkan dampak kepada petani. Menurut Cahyono (1996) pemasaran dengan saluran tataniaga yang panjang yaitu dari petani sebagai produsen disalurkan kepada pedagang pengumpul, dari pedagang pengumpul kemudian disalurkan ke pedagang besar. Selanjutnya ke pedagang pengecer untuk didistribusikan ke konsumen. Pemasaran dengan saluran tataniaga yang panjang dapat menyebabkan rendahnya harga pada tingkat petani/produsen dan tingginya harga pada tingkat konsumen sehingga sangat berpengaruh terhadap daya beli konsumen yang pada akhirnya dapat menyebabkan terhambatnya proses pemasaran dan pendapatan petani/produsen menjadi rendah. Saluran tataniaga yang panjang pada pemasaran gula aren merupakan ancaman dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
Saluran tataniaga yang paling efisien antara saluran tataniaga I dengan saluran tataniaga II adalah saluran tataniaga no 2 yang memiliki margin tataniaga yang paling besar sebesar 0.71. Selain itu, saluran tataniaga no 2 juga memberikan proporsi keuntungan yang adil dan memiliki saluran tataniaga yang paling pendek.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan,  daerah pemasaran gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka hanya di pasar tradisional. Produk gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka tidak pernah mamanfaatkan peluang pasar yang ada di pasar modern dan pasar internasional (ekspor). Peluang ekspor gula aren ke luar negri sangat besar. Pada saat ini, Jepang meminta pasokan gula merah sebanyak 500 ton per bulan akan tetapi jumlah tersebut tidak terpenuhi. Kelompok Tani Sariwangi tersebut baru dapat memenuhi permintaan 50 ton per bulan. Sebanyak 90 persen atau 450 ton belum terpenuhi.(Kompas online, 2010). Selain itu, Pabrik gula aren Masarang berhasil menebus pasar ekspor ke Jerman dengan harga Rp 110.000,-/Kg. Harga jual gula aren tersebut sangat menguntungkan bagi petani dan memiliki prospek yang baik dalam mengembangkan usaha gula aren. Oleh karena itu, peluang ekspor gula aren ke luar negri harus dimanfaatkan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
Berdasarkan hasil wawancara petani  dan pedagang , informasi harga jual gula aren oleh petani berdasarkan informasi pasar yang diterima dari pedagang pengumpul. Walaupun kondisi tersebut pada umumnya dapat merugikan petani karena pedagang pengumpul dapat mempermainkan harga gula aren, namun petani tidak pernah merasa di rugikan. Harga beli gula aren yang diterima petani berdasarkan harga pasar yaitu seharga Rp 10.000,-/Kg. Harga gula aren tersebut cendrung tetap kecuali pada bulan ramadhan, harga gula aren meningkat pada petani berkisaran Rp 14.000,-/kg  – Rp 15.000,-/Kg.
Namun harga jual gula aren pada pedagang pengumpul bervariasi. Pedagang pengumpul yang menjual gula aren kepada pedagang besar di pasar Aur Kuning Bukittinggi dengan harga Rp 12.000,-/ Kg  sedangkan pedagang pengumpul menjual gula aren ke pedagang di Riau (Rengat) dengan harga berkisaran Rp 14.000,-/Kg. Oleh karena itu, pedagang pengumpul yang menjual gula aren ke Riau lebih besar mendapatkan keuntungan.  Keuntungan yang diperoleh oleh pedagang pengumpul cukup besar. Pemasaran daerah Rengat, keuntungan rata-rata yang diperoleh sebesar Rp 1.016.277,-/Minggu sedangkan pada daerah Bukittinggi, keuntungan rata-rata yang diperoleh adalah Rp 397.583,-/Minggu.
Kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh pedagang pengumpul menggunakan fasilitas-fasilitas yang masih sederhana, yaitu kendaraan, gerobak, karung dan timbangan. Pedagang pengumpul menggunakan kendaran untuk menjemput gula aren di tempat pengolahan gula aren. Kemasan gula aren yang akan di pasarkan berupa karung yang berisi 50 kg gula aren per karung. Dalam pendistribusian gula aren ke pasar, pedagang pengumpul gula aren mengalami kerugian komoditas akibat rusak sebesar 0.06 % dari jumlah gula aren yang didistribusikan. Walaupun kerugian tersebut masih sangat kecil, namun hal tersebut bisa di katakan salah satu kelemahan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka akibat pengemasan dan pendistribusian yang kurang baik.
Sebagai perbandingan harga gula aren, pedagang pengecer gula aren di Pasar Payakumbuh menjual gula aren rata-rata Rp 14.000,/Kg sedangkan pedagang pengecer gula aren di Pasar Padang Loweh di Kecamatan Mungka menjual harga gula aren rata-rata Rp 13.000,-/Kg. Perbedaan harga tersebut sangat dipengaruhi oleh rantai tataniaga sehingga biaya-biaya tataniaga dan proporsi keuntungan di setiap jalur tataniaga gula aren sangat berbeda-beda.
Pedagang pengecer yang menjual gula aren di Pasar Bawah Bukittinggi menjual gula aren dengan harga Rp 14.000,-/Kg sedangkan pedagang pengecer yang menjual gula aren di Pasar Aur Kuning menjual gula aren dengan harga berkisaran Rp 15.000,-/Kg - Rp 16.000,-/Kg. Perbedaan harga jual kepada konsumen yang terjadi pada pedagang pengecer disebabkan karena jumlah gula aren yang beredar di Pasar Bawah lebih banyak dibandingkan di Pasar Aur Kuning. Selain itu, pedagang pengecer di Pasar Bawah Bukittinggi mendapatkan pasaokan gula aren langsung dari pedagang pengumpul sehingga harga beli gula aren oleh pedagang pengecer di Pasar Bawah berkisaran Rp 12.000,-/Kg sedangkan harga pedagang pengecer di Pasar Aur Kuning berkisaran Rp 14.000,-/Kg. Berdasarkan  informasi dari pedagang pengecer di Pasar Bawah Bukittinggi, biaya-biaya yang digunakan dalam memasarkan gula aren yaitu timbangan, keranjang dan kemasan (plastik) dengan biaya-biaya investasi awal sebesar Rp 1.080.000,- (Lampiran 26). Keuntungan yang diperoleh oleh pedagang pengecer di Pasar Bawah bukittinggi sebesar Rp 679.375,-/Minggu.
Namun, pada pedagang pengecer di Pasar Aur Kuning mengalami kerugian sebesar Rp 9.083,-/Minggu. Hal tersebut disebabkan karena jumlah pembelian gula aren oleh pedagang pengecer di Pasar Aur Kuning dalam jumlah sedikit yaitu 20 Kg/Minggu. Selain itu, pedagang pengecer di Pasar Aur Kuning tidak hanya menjual gula aren. Pedagang pengecer juga menjual kebutuhan rumah tangga sehari-hari seperti tepung, gula pasir, dan lain-lain. Apabila pendapatan pedagang pengecer tersebut digabung dari produk-produk yang dijual maka pedagang pengecer sangat menguntungkan.
Berdasarkan informasi dari pedagang pengecer di Pasar bawah Bukittinggi, permintaan gula aren cukup tinggi. Walaupun gula aren yang mereka jual selalu bersisa, namun kontiunitas jual beli sangat prospektif dan lancar. Pedagang pengumpul menyuplai gula aren ke pedagang pengecer pada hari rabu dan sabtu. Dalam satu kali penyuplaian, pedagang pengecer membeli gula aren rata-rata sebanyak 200 kg yang dimana pedagang pengecer membeli gula aren dari berbagai daerah di Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kabupaten Agam. Pedagang pengecer juga menjual gula batok yang berasal dari tebu dan gula aren campuran dengan gula biasa. Walaupun demikian pedagang pengecer telah mengelompokkan produk-produk tersebut dengan harga yang berbeda. Harga gula aren campuran dan harga gula batok yang dari tebu lebih memiliki harga yang murah dibandingkan gula aren yang asli. Gula campuran dan gula batok yang berasal dari tebu beredar di pasaran merupakan ancaman bagi pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.  Walaupun demikian, konsumen lebih cendrung memilih gula aren asli karena aromanya yang khas dan cita rasa yang enak.
Berdasarkan informasi dari UPT Pertanian Kecamatan Mungka, kegiatan pemasaran gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka belum didukung oleh kegiatan promosi sehingga menyebabkan gula aren ini belum terlalu populer dan dikenal konsumen. Selain itu, bentuk fisik gula aren sangat tradisional sehingga mencerminkan kondisi yang tidak higienis dan menarik serta kemasan gula aren masih dibungkus dengan daun pisang hingga tidak memilki daya tarik. Padahal, produk gula aren di Jawa dalam bentuk kristal dan memiliki kemasan yang sangat menarik sehingga konsumen sangat menyukai produk tersebut. Harga jual gula aren tersebut juga menguntungkan yaitu dengan harga 20.000/Kg (Suara Merdeka, 2010). Produk gula aren dalam bentuk kristal dan kemasan yang menarik merupakan ancaman bagi pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
D. Subsistem Lembaga Penunjang
a. Perekonomian Daerah dan Nasional
Suatu wilayah dianggap produktif  bilamana tingkat pertumbuhan ekonominya dianggap tinggi dan dapat merespon serta membiayai kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menambah pendapatan perkapita masyarakat dan selanjutnya dapat menambah pendapatan negara yang bersangkutan. Pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional merupakan peluang yang dapat membantu pengembangan agribisnis aren. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lima Puluh Kota dalam kurun waktu 1999-2003 cendrung mengalami kenaikan, dimana pada tahun 2003 laju pertumbuhan ekonomi daerah ini mencapai 4,56 %.
 Dalam Struktur perekonomian Kabupaten Lima Puluh Kota, sektor pertanian masih mempunyai peranan yang besar di tahun 2004. Berdasarkan perkembangan distribusi persentase PDRB atas harga berlaku, kontribusi sektor pertaian pada tahun 2004 sebesar 34,67 % dan 8,68 %-nya berasal dari sektor perkebunan. Kegiatan pertanian  yang lebih banyak didominasi oleh petani kecil dan penggarap yang tidak boleh dibiarkan saja agar kesejahteraan masyarakat menjadi lebih baik, maka upaya menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil merupakan prioritas utama ekonomi daerah dan nasional. Hal ini menjadi peluang bagi pengembangan agribisnis aren yang dikelola oleh rakyat kecil.

b. Otonomi Daerah
 Perubahan sistem politik dari pusat hingga daerah didasarkan pada Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, meyebabkan perilaku daerah mesti berubah menurut Undang-Undang. Kebijakan otonomi daerah merupakan salah satu peluang bagi pengembangan agribisnis di setiap daerah karena pembangunan agribisnis pada era otonomi daerah akan lebih ditentukan oleh kreativitas dan masing-masing daerah di berikan kebebasan untuk mengatur rumah tangganya sendiri. Kebijakan otonomi daerah memungkinkan pemerintah daerah dalam mengelola sendiri daerahnya sesuai dengan kebutuhan dan keperluan yang ada termasuk penanganan sektor agribisnis. Dalam konteks otonomi daerah pemerintah memiliki kreatifias sendiri untuk menemukan potensi kekayaan daerahnya, untuk itu pemerintah harus dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan kreatif  agar terbangun sistem agribisnis aren yang terintegrasi dengan baik.
Arah kebijakan umum Kabupaten Lima Puluh Kota di bidang perkebunan tahun 2005-2010 adalah (1) mendorong pengembangan komoditi unggulan berbasis nagari yang mempunyai potensi daya jual di pasar regional, nasional dan internasional dengan memanfaatkan teknologi yang dapat dijangkau oleh pelaku usaha; (2) mendorong sektor pertanian secara luas yang berbasiskan tanaman perkebunan dengan memanfaatkan keunggulan komparatif ekonomi, masyarakat dan berorientasi terhadap kebutuhan pasar di dalam maupun di luar daerah; (3) meningkatkan kualitas dan kuantitas penyusunan perencanaan program pembangunan perkebunan; (4) menyiapkan sarana dan prasarana serta sumber daya birokrasi pemerintah kabupaten (Kantor Perkebunan) dalam penyelenggaraan pemerintahan.

c. Transportasi, Pasar dan Komunikasi
           
 Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, sarana dan prasarana pendukung pada Kecamatan Mungka seperti jalan dan alat transportasi telah tersedia. Pada umumnya masyarakat yang berada di Kecamatan Mungka memiliki kendaraan pribadi seperti sepeda motor untuk mendukung kegiatan mereka sehari-hari termasuk dalam usahataninya. Daerah ini juga telah tersedia jasa angkutan pedesaan dan kendaraan roda dua. Selain itu, sarana komunikasi sudah tersedianya dengan adanya telepon seluler dengan beberapa layanan jaringan merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis gula aren di Kecamatan Mungka.
            Di Kecamatan Mungka juga tersedia pasar-pasar lokal yang menjadi tempat penjualan produk-produk yang dihasilkan tanaman aren. Oleh karena itu, ketersediaan pasar yang didukung oleh transportasi, sarana dan prasarana serta telekomunikasi merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.

d. Lembaga Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota
            Berdasarkan hasil wawancara dengan petani , pedagang saprodi dan pedagang komoditas, dukungan dari dinas terkait yang berhubungan dengan pengembangan agribinis aren belum pernah dilakukan, Seperti belum adanya penyuluhan dan pelatihan terhadap usahatani aren. Selain itu,  pengenalan teknologi dan bibit unggul juga belum pernah dilakukan sehingga belum ada perhatian pemerintah setempat dan dinas-dinas yang terkait dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka. Oleh karena itu, penyuluhan dan pelatihan yang belum pernah dilakukan kepada pelaku agribisnis aren di Kecamatan Mungka merupakan kelemahan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.
 Berdasarkan hasil wawancara dengan  Bapak Ir. Wal Asri (Camat Kecamatan Mungka), himbauan dan arahan terhadap pengembangan agribisnis aren telah lama di lakukan yaitu pada tahun 1999 dan arah pengembangan tanaman aren yang diberlakukan yaitu penanaman tanaman aren secara sistem agroforesti yang sangat mendukung pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka.  Namun,  penyuluhan dan pelatihan secara langsung belum pernah dilakukan  serta bentuk kerja sama antara lembaga pemerintah dengan pelaku agribisnis aren juga belum pernah ada. Selain itu, pemerintah setempat belum melakukan upaya dalam kegiatan promosi terhadap produk gula aren yang berasal dari Kecamatan Mungka. Oleh karena itu, produk gula aren belum pernah menembus pasar internasional yang memiliki peluang pasar yang sangat bagus. Hal tersebut merupakan kelemahan dalam pengembangan agribisnis di Kecamatan Mungka.
Selain itu, kerjasama yang efektif antara masing-masing lembaga yang ada dalam sistem agribisnis aren sangat diharapkan  agar agribisnis aren  dapat berkembang dengan baik. Jika masing-masing lembaga dikoordinasikan dalam sebuah jaringan kerjasama yang baik untuk membangun agribisnis aren di Kecamatan Mungka, maka produk yang dihasilkan akan mendatangkan keuntungan kompetitif bagi daerah tersebut. Ini akan membuat pertumbuhan ekonomi wilayah akan meningkat dan pembangunan daerah juga akan menjadi lebih baik. Namun saat ini pemerintah daerah belum mampu mengkoordinasikan jaringan lembaga yang ada dalam sistem agribisnis aren dengan baik, sehingga kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing subsistem berjalan dengan sendiri-sendiri sesuai dengan bidang usaha mereka. Keterkaitan antara lembaga agribisnis aren yang tidak terkoordinasi dengan baik merupakan kelemahan dalam pengembangan agribisnis aren di Kecamatan Mungka

e. Lembaga Keuangan

Agribisnis aren juga ditunjang dengan adanya lembaga keuangan berupa bank di kecamatan ini. Keberadaan lembaga keuangan ini merupakan peluang yang belum dimanfaatkan dalam pengembangan agribisnis aren terutama oleh petani. Berdasarkan wawancara dengan petani, alasan petani tidak mau meminjam modal pada lembaga keuangan dikarenakan petani masih mampu memodali usahanya sendiri. Selain itu, proses administrasi dalam peminjaman yang begitu sulit.

Sumber : http://sosekpertanianunand.blogspot.com/2011/01/sistem-agribisnis-aren-di-kecamtan_23.html

Rabu, 16 Mei 2012

Aren Foundation Sosialisasikan Prospek Pohon Aren

Aren Foundation Sosialisasikan Prospek Pohon Aren

Oleh: M Rusman

Aren Foundation Sosialisasikan Prospek Pohon Aren
Ilustrasi: Pohon Aren (M Rusman/ANTARA  News Kaltim)

Nunukan (ANTARA News Kaltim) - Aren Foundation Kabupaten Nunukan di Kalimantan Timur terus menyosialisasikan prospek dan keunggulan  pohon aren kepada masyarakat luas.

"Dengan harapan, agar potensi pohon aren ini mendapatkan respon positif dari masyarakat dan pemerintah pusat maupun daerah. Karena peluang ekonomi yang dapat ditimbulkan sangat besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, apabila dikelola dengan sebaik-baiknya," kata Pimpinan Aren Foundation Ir Dian Kusumanto, di Nunukan, Selasa.

Menurut dia, pohon aren ini pemeliharaannya sangat mudah dan sangat baik pada kondisi tanah dan iklim. Pohon aren merupakan tanaman untuk pembuatan gula merah seperti yang diproduksi masyarakat selama ini sehingga nilai ekonominya sangat menjanjikan bagi masyarakat.

Di Kabupaten Nunukan selama ini belum menjadi perhatian bagi masyarakat. Kalaupun ada, baru sebatas tanaman liar yang jumlahnya masih sangat kurang.

Dia mengatakan, pohon aren di Kabupaten Nunukan terdapat di sejumlah lokasi seperti Mambunut, Sei Bilal, Sei Fatimah, Mansapa, Setabu, Tembaring, Tanjung Karang dan Tanjung Aru.

"Di Kabupaten Nunukan ini ditemukan pohon aren tetapi masih spot-spot, lokasinya terpencar-pencar dan masih tergolong liar," ujarnya.

Sesuai kalkulasi kasar, apabila benar-benar dikelola dan ditata pembudidayaannya, pohon aren dengan luas area satu hektare di dalamnya terdapat 200 pohon dapat menghasilkan gula merah 400 kilogram per hari. Dengan perhitungan satu pohon aren dapat disadap selama dua kali sehari.

"Dalam satu pohon, dapat menghasilkan 10 liter nira per hari," katanya.

Agar masyarakat lebih memahami prospek dari pohon aren, Dian mengatakan, pihaknya menyosialisasikan melalui blogspot dan jejaring sosial facebook. Sejak sosialisasi tersebut, telah banyak yang memesan bibitnya.

Terkait dengan respon pemerintah terhadap potensi yang dimiliki pohon aren ini, Dian mengatakan, belum ada yang menjadikannya program unggulan, kecuali Pemerintah Kutai Timur Kalimantan Timur.

Di daerah ini, pemerintah daerah telah menjadikan pohon aren sebagai tanaman produk unggulan untuk produksi gula merah.   (*)

Sumber : http://kaltim.antaranews.com/berita/6982/aren-foundation-sosialisasikan-prospek-pohon-aren

Kamis, 26 April 2012

Dengan Pola Tradisional Menjadi Petani Aren Sangat Berat


Profil Petani Aren :  Pak Limin ex Petani Aren dari Malino Enrekang Sulawesi Selatan

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto

Pagi hari tadi saya dipertemukan dengan Bapak Limin (44 tahun) petani dari Desa Sekapal Kecamatan Seimenggaris Kabupaten Nunukan.  Pak Limin dulunya berasal dari Kampung Pakriwang Desa Batumila Kawasan Malino Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan.  Di sebelah Kampung Pakriwang 17 tahun yang lalu, terdapat kawasan lindung yang masih berupa hutan banyak ditumbuhi pohon Aren.   Para penduduk kampung sehari-harinya banyak melakukan aktifitas yang berhubungan dengan kawasan hutan itu, salah satunya adalah mengelola pohon Aren yang tumbuh liar dan mengolah niranya untuk dibuat gula Aren.

Saya sengaja menggali kisah lamanya saat dia masih di kampungnya dulu dan membandingkan dengan apa yang dia lakukan sekarang ini yaitu dengan membuka lahan kebun Kelapa Sawit seluas 10 hektar.  Sebenarnya kebun Kelapa Sawitnya sudah mulai berproduksi, tetapi karena kendala akses jalan yang belum ada atau masih sangat sulit, maka Pak Limin terpaksa masih gigit jari alias masih belum mendapatkan hasil.  Dia bersama petani yang lain yang senasib masih menunggu uluran tangan Pemerintah Kabupaten Nunukan untuk bisa mengatasi masalahnya.  Sepertinya harapan itu ada untuk beberapa tahun lagi, semoga.

Pada waktu masih lajang dengan umur yang masih muda (17 tahun) Pak Limin bersama  keluarga dan para penduduk kampung  sehari-hari mengelola nira dari pohon Aren dan diolah menjadi gula Aren.  Karena infrastruktur desa waktu itu masih apa adanya, setiap hari Pak Limin dan para penduduk berjalan kaki sejauh sekitar 2 kilometer menuju pondoknya di dalam hutan.  Di pondok  itu sudah tersedia segala peralatan untuk menampung dan mengolah nira menjadi gula Aren yang dicetak dengan tempurung kelapa.  Tungku untuk memasak Nira dibuat dari tanah dengan kuali atau wajan besar yang terbuat dari besi atau logam.

Biasanya mereka memilih pohon Aren yang subur pertumbuhannya, yang ditandai dengan daunnya yang rimbun dan batang yang gemuk atau besar.  Pohon yang terlihat subur biasanya akan mengeluarkan nira Aren lebih banyak dibandingkan dengan pohon yang kurang subur.  Karena pohon-pohon Aren ini tumbuh liar makanya tanaman yang mereka kelola juga tersebar kadang ada yang berdekatan ada pula yang berjauhan.  Inilah yang menyebabkan tenaga mereka terkuras agak banyak sehingga kapasitas pengelolaan pohon Aren setiap orang paling banyak mencapai sekitar 10 pohon per orang.   Sebab selain petani  menyadap niranya, mereka masing-masing juga harus mencari kayu dan memasak niranya hingga menjadi gula.  

Pemasakan Gula Aren dilakukan di dalam hutan, karena di sekitarnya banyak terdapat kayu untuk memasak niranya.   Di sela-sela waktu luangnya mereka mengumpulkan kayu untuk cadangan bahan bakar memasak.   Nira Aren biasanya dikumpulkan dua kali sehari, yaitu setiap pagi dan sore.   Hasil penyadapan sore hari biasanya langsung dipanaskan dengan api biasa dengan tujuan agar tidak terjadi pemasaman atau fermentasi hingga besuk paginya.   Hasil Nira yang diambil pada pagi hari kemudian dituang atau disatukan dengan nira sore kemarin yang sudah dipanaskan.  Campuran Nira kemarin sore dan pagi harinya itu kemudian langsung dimasak selama antara 3-5 jam hingga menjadi gula Aren.

Dari 10 pohon yang disadap rata-rata akan menghasilkan sekitar 50 biji.  Kalau akan menjualnya ke pedagang di pasar biasanya  dari 10 biji diikat atau dibungkus menjadi 1 ikat  yang beratnya sekitar 3 kilogram.   Jadi kalau mereka masing-masing dapat menghasilkan  50 biji akan menjadi 5 ikat gula Aren yang beratnya mencapai  sekitar 15 kilogram.   Dengan demikian rata-rata produksi setiap pohonnya adalah sekitar 1,5 kg per pohon per hari.   Pada tahun 2008 yang lalu harga setiap ikat gula di tingkat petani sudah mencapai Rp 24.000 per ikat,  atau dengan hitungan kilogram harganya sekitar Rp 8.000/kg gula Aren.   Sekarang harganya sudah lebih bagus yaitu antara  Rp 25.000 sampai Rp 27.000 per ikat  atau sekitar antara Rp 8.350 sampai Rp 9.000 per kg.

Kalau dihitung-hitung maka pengasilan kotor masing-masing petani dan sekaligus perajin gula  mencapai antara Rp 125.250 sampai Rp 135.000 per hari,  kalau dihitung per bulan maka penghasilan kotornya mencapai  antara Rp 3.757.500  sampai Rp 4.050.000 per orang per bulan.    Hasil ini oleh perajin dirasa masih kecil karena hampir tidak ada waktu bagi mereka untuk bersosialisasi atau menikmati hasil jerih payahnya.   Hampir tidak ada waktu untuk meninggalkan kegiatan sehari saja, karena kalau dia meninggalkan tempat atau tidak dipelihara sadapannya maka bisa mengering atau bahkan bisa berhenti mengeluarkan nira.   Jadi rutinitas inilah yang membuat mereka merasa sangat berat dan sangat terbebani.  Oleh karena itu Pak Limin merasa pekerjaan ini sangatlah berat dan repot.



Kalau untuk mengolah nira menjadi gula dibantu oleh anggota keluarga yang lain dan petani berfokus hanya untuk mengambil nira, maka mereka bisa memaksimalkan kapasitas penyadapan menjadi dua kali lipatnya yaitu sekitar 20 pohon.   Pak Limin juga pernah mengalami hal itu, yaitu waktu orang tuanya membantu dari mencari kayu hingga mengolah nira sampai menjadi gula maka waktu itu dia dapat memanjat sampai sekitar 20 pohon.   Dengan demikian penghasilannya bisa lebih banyak lagi yaitu sekitar 2 kali lipatnya atau menjadi sekitar Rp 8 juta per bulan. (Bersambung)

Rabu, 25 April 2012

Biji Aren menjadi Tasbih







Biji Aren untuk kerajinan Tasbih

Oleh : Dian Kusumanto

 

Ternyata Aren selain dari air niranya, juga mempunyai produk yang bernilai tinggi yaitu dari bijinya.  Saat biji masih muda maka biji-biji Aren bisa diolah menjadi Kolang-kaling yang sangat enak untuk menemani minuman Es Buah atau Kolak pada saat buka puasa.  Selain itu bijinya yang sudah tua selain untuk bibit tanaman generasi kemudian, juga bisa diolah menjadi biji-biji Tasbih yang nilainya lumayan mahal.  

Penulis selama ini pun sudah mencoba menjadikan biji Aren yang sudah berkecambah sebagai Tasbih.  Caranya begitu penulis mendapatkan biji-biji yang sudah akan berkecambah, yang ditandai dengan munculnya titik bulat putih calon plumula maka kalimat Tasbih dilantunkan : "Subhanallooh..!!".... "Alhamdulillaah...!!", dan seterusnya.  Kalau ketemu 100 biji yang berkecambah maka mestinya 100 kalimat Tasbih yang terucap.   Tapi biasanya karena saking senangnya ketemu yang berkecambah biasanya lalai alias lupa mengucapkannya.  Ya.... manusiawi!

Tapi bukan seperti itu yang dimaksud dalam tulisan ini, tapi benar-benar biji Aren itulah yang yang diproses menjadi biji Tasbih yang indah dan menarik.  Seperti yang saya lihat pada iklannya salah satu produk Tasbih Kolang-Kaling, begitu namanya.  Adalah  dari Makrifat Bussines yang menyediakan Tasbih (alat bantu menghitung saat berdzikir) yang terbuat dari biji Aren yang sudah tua.  

Biji Aren yang sudah tua memang merupakan endosperma yang sangat keras untuk cadangan pangan sang Embrio Aren.  Endosperma adalah cadangan makanan yang mengandung aneka nutrisi terutama adalah karbohidrat.  Endosperma ini terlindung oleh beberapa lapisan kulit biji yang sangat kuat, oleh karenanya pengecambahan dari biji dikenal agak sulit dan butuh waktu sangat lama.

Endosperma biji inilah yang sebenarnya digunakan dan diolah untuk menjadi Biji-biji Tasbih oleh beberapa pengrajin seperti yang dikelola oleh Makrifat Bussiness ini.  Endosperma dari biji Aren sebenarnya berwarna putih susu dan sangat keras.  Namun demikian bila terkena air atau disimpan dalam keadaan lembab, lama kelamaan akan rusak.  Oleh karena itu pada proses finishing pembuatan Tasbih dilakukan pelapisan bening yang bisa melindungi dari kemungkinan masuknya air, sehingga biji-biji Tasbih itu akan awet dan berkualitas.

Untuk mengolahnya menjadi Tasbih, yang harus dilakukan adalah mengupas kulit bijinya yang beberapa lapis itu hingga meninggalkan biji endosperma yang berwarna putih berbentuk bulat lonjong dan sangat keras.  Selanjutnya dengan berbagai peralatan endosperma ini dibentuk bulat-bulat dan dilubangi bangian tengahnya sebagai biji Tasbih.  Setelah bentuknya sudah sesuai yang dinginkan kemudian dilakukan proses pewarnaan dengan menggunakan bahan dan perlakuan yang khusus.

Jika bentuk dan warna biji-biji Tasbih tadi sudah sesuai dengan rancangan, maka tahap finishingnya adalah coating dengan bahan yang "anti air" ada yang mengatakan "anti gores" untuk melapisi bagian luar dari biji-biji Tasbih sebelum dirangkai menurut jenis Tasbih.  Jenis-jenis Tasbih yang biasa digunakan oleh para Muslimin/Muslimat ada yang disebut Tasbih 33, Tasbih 99, dan seterusnya.   

Di bawah ini adalah kalimat iklan dari Makrifat Bussiness :

 Tasbih KOLANG KALING atau buah AREN sering desebut juga sebagai tasbih KOKKA PALSU, mengapa demikian? Karena tasbih ini mirip dan identik dengan tasbih kokka asli yang terbuat justru dari batang pohonnya, luar biasa bukan? padahal ini adalah hasil dari biji kolang kaling yang banyak bertebaran di Indonesia. Yang uniknya lagi jenis tasbih ini juga tenggelam. Nach semoga tasbih kokka ANDA yang pernah anda beli yang dikatakan dari pohon kokka, tidak termasuk jenis tasbih palsu. Kami tawarkan hanya dengan harga @ Rp. 65,000,-    (Sumber : http://www.makrifatbusiness.net/2011/04/tasbih-kolang-kaling-atau-buah-aren.html)

Selamat berdzikir dan bertasbih.....!!!

Selasa, 24 April 2012

Menyadap Miliaran Rupiah dari Pohon Aren

Menyadap Miliaran Rupiah dari Pohon Aren


Aren merupakan tanaman yang sudah lama dimanfaatkan oleh penduduk Indonesia dengan produk utama berupa gula merah. Namun, belum banyak yang menyadari bahwa pohon aren mampu menghasilkan miliaran rupiah, bila dioptimalkan.

Aren memiliki berbagai nama seperti nau, hanau, peluluk, biluluk, kabung, juk, atau ijuk (aneka nama lokal di Sumatra dan Semenanjung Malaya); kawung, atau taren (Sunda); akol, akel, akere, inru, atau indu (bahasa-bahasa di Sulawesi); moka, moke, tuwa, atau tuwak (di Nusa Tenggara), dan lain-lain.

Pohon aren (kawung) merupakan tanaman yang banyak manfaatnya. Buahnya (kolang-kaling) dapat dipakai untuk campuran minuman, niranya dapat disadap dari batang bunganya, dan kayunya dapat diolah menjadi tepung sagu (aci aren).

Bila dihitung, pohon itu mampu memberi penghasilan bagi pemiliknya hingga Rp 12 juta selama tiga  tahun. Demikian diutarakan Hasyim, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Perajin dan Industri Kecil (APPIK) Majenang yang juga perajin gula aren Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, saat pelatihan pembuatan gula aren, baru-baru ini.

Namun, tidak banyak penyadap (penderes) dan pemilik pohon aren yang bisa memaksimalkan manfaatnya. “Pohon aren itu banyak manfaatnya, satu pohon bisa menghasilkan uang sampai Rp 12 juta selama tiga tahun. Tapi masih banyak yang belum tahu,” kata Hasyim.

Bila 1 pohon menghasilkan Rp 12 juta dalam 3 tahun, maka dengan 100 pohon saja bisa didapat penghasilan sedikitnya Rp 1,2 miliar dalam 3 tahun. Itu artinya, pemilik 100 pohon aren bisa berpenghasilan Rp 400 juta setahun atau sekitar Rp 33 juta lebih per bulan 

Masalahnya, lanjut Hasyim, karakteristik setiap pohon berbeda, teknik menyadapnya pun berlainan. Sehingga tidak semua penyadap sukses menyadap nira aren.
Apabila telah berhasil disadap, nira aren biasanya hanya diolah menjadi gula aren cetak, sehingga harganya cenderung rendah. Untuk itu, dia berharap setiap penyadap saling berbagi pengalaman agar mereka semua sukses menyadap pohon aren. “Teknik setiap penyadap berbeda-beda, kalau teknik seorang penyadap dipakai untuk menyadap pohon aren lainnya belum tentu berhasil. Apalagi setiap penyadap dan pohonnya punya ritual yang berlainan,” katanya.

Menurut Hasyim, ritual tersebut sebagian besar masih berlandaskan pada pengalaman bersifat mistis, bukan pada teknik dan ilmu pengetahuan modern. Di antaranya tidak pakai wangi-wangian, mengencingi pohon, dan bertengkar dengan istri. Kalau pantangan dilanggar, pohon akan “ngadat” alias tidak keluar niranya.

Karena itu dia berharap, para penyadap dapat mengembangkan pengetahuannya tentang aren sehingga mampu meningkatkan produktifitas nira aren dan menghasilkan produk-produk yang lebih bervariasi. Dia mencontohkan dengan membuat jahe aren, kopi jebug aren, atau gula semut aren dalam kemasan. Dengan demikian, nilai ekonominya meningkat.
Perlu diketahui gula aren cetak biasanya dijual seharga Rp 8.000 – Rp 9.000 per kilogram. Adapun harga gula semut aren bisa mencapai Rp 20 ribu - Rp 25 ribu per kilogram, dan jahe aren bisa mencapai Rp 8.000 per bungkus ukuran seperempat kilogram.

Memanfaatkan DAS
Kepala UPT Disperindagkop Majenang, Pristiwanto menambahkan, sentra aren terdapat di wilayah Kecamatan Dayeuhluhur, Wanareja, dan Majenang. Namun saat ini jumlah pohon aren kian berkurang, karena banyak yang ditebang untuk dibuat tepung sagu (aci aren). Padahal, pohon tersebut sangat potensial untuk dikembangkan.

Sebelumnya, Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) bersinergi dengan Institut Ilmu Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin) dan BUMN Hijau Lestari untuk mengembangkan kawasan daerah aliran sungai (DAS) serta mengoptimalkan potensi tanaman aren.

Muhammad Taufiq, Staf Ahli Pengembangan Iklim Usaha dan Kemitraan Kemenkop UKM, mengemukakan kerjasama dengan dua lembaga tersebut untuk meningkatkan produktivitas masyarakat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). BUMN Hijau Lestari merupakan konsorsium lima BUMN meliputi Perum Perhutani, PT Pupuk Kujang, PT Sang Hyang Seri, PTPN VIII, serta Jasa Tirta.


 “Kerja sama dengan BUMN Hijau Lestari, untuk pengembangan kawasan daerah aliran sungai, khususnya di Jawa Barat. Kawasan itu akan dijadikan lebih produktif dengan menanam tanaman tahunan maupun pangan,” ujarnya.
DAS yang akan dijadikan lahan produktif bagi UMKM mencapai 250.000 ha. Selain berdampak positif untuk menahan bencana longsor, pelaku usaha mikro dan kecil bisa memanfaatkan lahan itu untuk meningkatkan pendapatannya.

Tanaman produktif yang akan dikembangkan di seluruh DAS Jawa Barat meliputi pohon aren, pohon jati, sengon, buah-buahan, jagung serta tanaman sorgum. Hasil dari berbagai tanaman tersebut diharapkan bisa meningkatkan produktivitas UMKM di sekitar lokasi.
Di antara beberapa komoditas tersebut, ada yang diproyeksikan untuk pengembangan industri gula semut dari aren dan tepung yang dihasilkan dari biji sorgum. Pengembangan usaha ini memang spesifik, tetapi diyakini berdampak positif.

Untuk pengembangan industri gula semut, Kemenkop UKM merangkul Ikopin untuk mengembangkan bibit tanaman aren yang berasal dari Sibolangit, Sumatra Utara. Pohon aren dari kawasan tersebut memiliki keunggulan hasil air niranya.

“Pohon aren di daerah lain umumnya hanya memproduksi sekitar 10 liter per hari, sedangkan pohon aren dari Sibolangit bisa mencapai 60 liter per hari. Oleh karena itu, Ikopin akan melakukan pembibitan tanaman aren dari Sumatra Utara untuk disebar ke DAS seluruh Jawa Barat,” ujar Taufiq. Pembiayaan untuk program pembibitan dilakukan oleh lima perusahaan BUMN Hijau Lestari.

Lahan Pembibitan
Sedangkan DAS yang akan dimanfaatkan untuk program tersebut masing-masing di Sungai Citarum, Ciliwung, serta sungai Cimanuk. Lahan pembibitan yang akan dimanfaatkan di area Kampus Ikopin seluas 5 ha dari total 20 ha. Menurut Taufiq, dari 60 liter produksi air nira dari satu pohon aren, bisa menghasilkan sekitar 30 kg gula semut per hari. “Potensinya sangat besar untuk memenuhi permintaan nasional maupun ekspor, karena Jepang sangat menggandrungi gula semut,” papar Taufiq.

Kemenkop UKM mulai tahun ini juga mulai mengangkat potensi komoditas gula aren di lima kabupaten Jawa Tengah, yakni Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen (Barlingmascakeb).

Potensi gula aren atau juga dikenal sebagai gula jawa atau gula semut di kawasan Barlingmascakeb sangat besar, akan tetapi belum digarap serius. Untuk meningkatkan kapasitas produknya, pemerintah akan melakukan fasilitasi serta pendampingan teknis. Pendampingan tersebut mencakup peningkatan kemampuan petani aren dalam memproduksi secara tepat guna melalui penerapan teknologi.

Dalam peningkatan kapasitas itu, masyarakat produsen tidak lagi diposisikan sebagai objek, tetapi sebagai subjek. Dengan sistem ini Kemenkop UKM optimistis gula aren akan dikenal luas sebagai bahan pemanis selain gula pasir. Potensi gula aren untuk pasar ekspor bahkan sangat terbuka, karena negara-negara maju di Asia seperti Jepang, lebih cenderung mengonsumsi gula aren.

Saat ini pemasok gula aren ke Jepang adalah Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Ekspor oleh petani dari daerah itu telah berlangsung sejak 1988. “Barlingmascakeb juga memiliki peluang itu karena Jepang masih kekurangan produk tersebut,” tukas Wayan.
Kapasitas produksi gula aren dari Jawa tengah saat ini sekitar 5,64 ton per tahun. Jumlah itu belum termasuk dengan produksi dari Barlingmascakeb. Kemenkop UKM belum memiliki catatan pasti kapasitas produksi gula aren di lima kabupaten itu.

suaramedia.com, ins
sumber dari : http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=baef9f7c76f1a9899baca5df1b0c7213&jenis=e4da3b7fbbce2345d7772b0674a318d5
Source :Surabayapost.co.id
Sumber : http://www.bumn.go.id/ptpn8/publikasi/berita/menyadap-miliaran-rupiah-dari-pohon-aren/